Rabu, 30 Mei 2012

Bukannya Untung Malah Buntung (cerpen)


Hari ini adalah hari yang kutunggu, karena hari ini aku dan keluargaku akan mudik ke kampung halamanku untuk merayakan hari lebaran bersama. Aku, kakakku Saddiq dan mamaku sudah menyiapkan barang-barang yang akan dibawa dari hari kemarin. Kali ini, hari lebaran akan kami rayakan tanpa papa, karena papaku sedang sibuk bekerja mengerjakan proyek yang sedang dibangunnya di luar kota. Walaupun lebaran kali ini tanpa papa, setidaknya ada keluarga besar mamaku yang akan merayakan hari lebaran bersama dirumah pamanku. Semua ini bisa mengobati sedikit kekecewaan kami karena semua bibi dan pamanku yang ada diluar kota bisa berkumpul bersama, kesempatan emas ini sangat jarang kami lakukan lagi semenjak nenek kami meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, karena setelah itu semua keluargaku sulit untuk bisa berkumpul bersama lagi.
          Semua barang telah siap, dengan sangat buru-buru kami langsung berangkat menuju tempat pemesanan tiket. Setelah kami mendapatkan tiket yang kami inginkan, kami langsung mencari mobil travelnya.
          “Bu, yang mana mobilnya?”, tanyaku pada ibu.
          “Yang itu, dek”, jawab ibu sambil menunjuk mobil ke arah mobil.
          “Eh, tetapi mobil itu sepertinya lebih bagus dan sebentar lagi akan berangkat. Bagaimana kalau kita naik mobil itu saja? Tidak apa-apa jika kita diminta bayaran lebih untuk bisa naik mobil yang itu, yang penting kita bisa cepat sampai di tempat paman dan bibi kalian ”, sambung ibu.
          Karena kami sangat buru-buru, sedangkan mobil travel kami masih sangat lama akan berangkat, tanpa menjawab pertanyaan ibu kami pun naik mobil lain yang lebih bagus dan akan segera berangkat. Baru sebentar dimobil, aku pun tertidur dengan pulasnya. Dan tiba-tiba terdengar suara ban pecah.
          “Byaaaaaaaar.”
          “Haaaah, kenapa harus pecah sih bannya!” kataku.
          “Iya nih, kenapa bisa pecah!” sambung penumpang lain.
          Untung saja ada ban cadangan, jadi tidak terlalu repot untuk mengganti bannya. Tak lama kemudian, kami melanjutkan perjalanan dan mobil pun melaju kencang kembali. Sempat terlintas dipikiranku, jika ban mobil ini akan pecah lagi. Hari ini merupakan hari terakhir berpuasa, agar rasa haus dan lapar tidak terasa, aku memutar lagu di handphoneku. Di saat aku sedang enak mendengar lagu dan menikmati indahnya pemandangan di pedesaan, ternyata dugaanku tadi benar, ban mobil pun pecah lagi. Kali ini tidak ada ban cadangan dan terpaksa semua penumpang harus menunggu bannya di tambal di bengkel yang sangat jauh dari tempat kami menunggu karena ban tersebut pecah tepat di tengah hutan yang penuh dengan semak-semak. Satu jam, dua jam, kami menunggu, tak lama kemudian mobil telah ditambal banyya dan siap untuk jalan kembali. Semua penumpang pun naik ke mobil.
          “Pak, sekali lagi jangan sampai pecah lagi dong bannya!” seorang ibu-ibu kesal.
          “Iya pak! Gimana sih, kami sudah bayar mahal nih!” sambung ibu disebelahnya.
          “Maaf bu, saya tidak tahu kalau akan seperti ini.” jawab supir.
          Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00, satu jam lagi suara adzan akan berkumandang yang merupakan tanda sudah masuk waktunya berbuka puasa. Seharusnya sekarang, aku dan keluargaku sudah sampai ke tempat paman dan bibi. Tidak hanya dua kali bannya pecah, tetapi berlanjut untuk yang ketiga kalinya. Rasa kesal dirasakan oleh semua penumpang termasuk aku. Kali ini, ban yang pecah adalah ban belakang sebelah kiri, yang sebelumnya pecah pertama kali
          “Sudah jam lima, sebentar lagi akan maghrib. Perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh dengan waktu kira-kira 3 hingga 4 jam. Tetapi sekarang sudah lima jam diperjalanan, kami pun belum sampai juga ke tempat tujuan dan masih harus menunggu bannya ditambal, tetapi alhamdulillah masih ada untungnya juga pecah ban yang ketiga kalinya ini karena bannya pecah tepat di depan bengkel dan tambal ban.” keluhan para penumpang.
          Semua penumpang semakin kesal ketika sopir meminta uang tambahan untuk menambal ban. Tetapi, permintaannya ditolak para penumpang.
          “Kita sudah membayar lebih untuk naik mobil ini, bukannya mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan biaya yang dikeluarkan tetapi malah rugi untuk membayar lagi karena kelalaian sopir yang tidak menyiapkan dengan baik mobil yang akan digunakan.” kata seorang penumpang kesal.
          “Saya juga kan tidak tahu bu kalau akan seperti ini jadinya.” ucap sopir memotong perkataan penumpang tadi.
          “Tetapi kenapa bapak sampai berani meminta uang kami lagi untuk membayar tambal ban?” sahut penumpang lain.
          “Huh!” desahan sopir yang terlihat kesal sambil kembali lagi menuju bengkel.
          Setelah selesai, kami langsung meneruskan perjalanan. Dan di perjalanan, kekesalan penumpang pun berlanjut, ditambah dengan bagasi belakang mobil yang terbuka dan membuat semua barang-barang penumpang pun jatuh. Ada penumpang yang membawa parcel berisikan kue-kue lebaran lengkap, semuanya pecah dan isinya hancur, mukanya pun tampak kelihatan kesal. Karena sudah banyak hal yang membuatnya kesal pada hari ini, penumpang tersebut kelihatan pasrah saja, ia pun mengambil sisa-sisa kue yang masih utuh dan memegangnya di dalam mobil. Untung saja, barang-barang kami tidak ada yang pecah belah.
Tidak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 06.00 dan sudah waktunya berbuka puasa, tetapi karena kami di dalam mobil dan masih ragu apakah sudah adzan atau belum. Kami pun memutar radio dan ternyata sudah adzan, kami pun berbuka puasa dengan air putih saja dan kebetulan hanya aku, kakakku dan mamaku yang puasa sedangkan yang lainnya tidak puasa.
          Satu per satu semua penumpang sampai ke tempat tujuannya masing-masing, tinggal aku, kakakku dan mamaku yang belum sampai. Tak lama kemudian, kami pun tiba dirumah paman dan bibiku, perasaan kesal selama dijalan pun berubah menjadi perasaan senang ketika kami telah sampai. Kami pun disambut hangat dan penuh kebahagiaan tepat di malam takbiran.
          “Kenapa baru sampai, padahal sudah dari tadi pagi perginya.” tanya semua keluarga kami.
          “Iya nih, padahal kami sudah siap dari pagi-pagi sekali, sudah beli tiket yang lebih mahal, memilih mobil yang paling bagus, untuk bisa sampai ke sini secepatnya agar bisa berkumpul bersama. Tetapi kami malah mengalami pecah ban tiga kali, bagasi mobil terbuka, buka puasa di mobil dengan air putih saja dan malah ingin dipinta lagi uang untuk membayar tambal bannya karena sopir sudah rugi karena menambal ban tiga kali.” kataku kesal.
          “Kenapa bisa gitu sih dek?” tanya bibiku.
          “Tidak tahu juga kak” sahut mamaku
          “Bukannya untung malah buntung.” sambungku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar